Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BRIN Mendorong Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Bidang Kesehatan

Saat ini, kita dapat menemukan munculnya berbagai macam penyakit dan wabah baru di seluruh dunia yang telah menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat. Dengan keterbatasan fasilitas serta tenaga medis khususnya di Indonesia, hal ini akan memberikan dampak yang cukup serius apabila tidak direspon dengan strategi yang tepat.



Salah satu upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak yang berkecimpung pada bidang kesehatan seperti rumah sakit, dokter, tenaga kesehatan, hingga pemerintah adalah dengan melaksanakan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.


Penerapan teknologi kecerdasan buatan telah banyak digunakan untuk membantu manusia dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Sebagai contoh, penggunaan mesin otomatis pada berbagai bidang yang dahulu dianggap mustahil justru kini telah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat. Hal ini mencerminkan bahwa teknologi kecerdasan buatan telah berkembang secara pesat.


Dalam rangka mendorong upaya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan pada bidang kesehatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan webinar dengan tema Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Buatan di Bidang Kesehatan secara daring pada tanggal 21 Maret.


Pada webinar ini, sambutan diberikan oleh Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Prof. Indi Dharmayanti, serta Atase Perdagangan Rusia untuk Indonesia, Alexander Svinin. Kegiatan webinar kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan narasumber seperti Kepala Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PR KAKS) BRIN, Anto Satriyo Nugroho, Direktur Pusat Kecerdasan Artifisial Innopolis University Rusia, Ramil Kuleev, peneliti Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN, Astutiati Nurhasanah, dan Ruslan Lukin yang merupakan pakar teknologi kecerdasan buatan.


Dalam paparannya, Anto Satriyo Nugroho menyampaikan bahwa penerapan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia telah banyak membantu tenaga medis dalam mengidentifikasi suatu penyakit ataupun wabah penyakit.


Secara spesifik, Anto menjelaskan bahwa pada wabah malaria, teknologi kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk mendiagnosis wabah dengan melakukan ekstraksi morfogeometris yang didapatkan dari mikroskop. "Data tersebut diterjemahkan menjadi algoritma yang dapat mengidentifikasi apakah sampel darah yang diuji mengindikasikan seseorang terjangkit wabah malaria atau tidak," terangnya.


"Penerapan teknologi kecerdasan buatan juga memiliki tingkat akurasi yang cukup baik dalam mengidentifikasi wabah. Tingkat prediksi kecerdasan buatan mencapai 77,14% nilai positif, 84,37% sensitivitas, serta 80,60% akurasi F1," ungkap Anto.


Sementara itu, Atase Perdagangan Rusia untuk Indonesia, Alexander Svinin, menyatakan dukungannya terhadap riset serta inovasi kecerdasan buatan yang dilakukan di Indonesia.


"Kami sangat terbuka terhadap riset dan inovasi penerapan kecerdasan buatan di bidang kesehatan. Hal ini memungkinkan terjadinya kolaborasi oleh banyak pihak," ujar Svinin.


Pada kesempatan yang sama, Direktur Institut Kecerdasan Buatan Innopolis University Rusia, Ramil Kuleev, menyatakan bahwa di Rusia, penerapan kecerdasan buatan telah digunakan dalam kehidupan manusia, terutama di bidang kesehatan, antara lain untuk mengidentifikasi berbagai penyakit melalui hasil radiologi. 

Post a Comment for "BRIN Mendorong Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Bidang Kesehatan"