Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bapak AI menyebut ChatGPT lebih berbahaya daripada 'Kiamat'

AI Chatgpt lebih berbahaya dari pada kiamat


Menurut Geoffrey Hinton, teknologi kecerdasan buatan (AI) lebih berbahaya bagi peradaban manusia daripada dampak pemanasan global yang disebut-sebut sebagai "kiamat". Hinton, yang dikenal sebagai "Godfather of AI", baru-baru ini mengundurkan diri dari Google setelah sepuluh tahun mengembangkan produk AI di perusahaan tersebut. Ia ingin membahas ancaman AI tanpa khawatir akan dampaknya pada Google.


Setelah meninggalkan Google, Hinton banyak diwawancarai untuk membahas masa depan AI. Menurutnya, teknologi tersebut memiliki banyak risiko. Meskipun Hinton sadar akan bahaya AI, ia tidak setuju dengan gerakan Elon Musk dan sejenisnya untuk menangguhkan penelitian teknologi tersebut karena menurutnya itu tidak realistis.


Hinton mengatakan bahwa perubahan iklim memiliki indikator solusi yang jelas. Penyebabnya adalah emisi karbon, sehingga manusia harus mengurangi produksi CO2. Namun, untuk AI, tidak ada kejelasan seperti itu. Orang tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mencegah risikonya.


Pekan lalu, Presiden AS Joe Biden memanggil beberapa raksasa teknologi yang mengembangkan AI untuk memberikan arahan tentang pengembangan produk mereka. Biden meminta agar produk AI harus transparan dan dibangun dengan tanggung jawab moral untuk keamanan publik. Menurut Hinton, bos teknologi memahami sistem kerja AI, dan pemerintah juga harus terlibat dalam pengembangannya. Teknologi ini mempengaruhi kita semua, jadi kita harus sama-sama memikirkannya.


Setelah kehadiran ChatGPT yang mengejutkan industri teknologi pada akhir 2022, topik tentang kecerdasan buatan (AI) menjadi sangat populer. Padahal, AI telah dikembangkan selama beberapa waktu.


Salah satu tokoh utama dalam pengembangan teknologi AI adalah Geoffrey Hinton. Sejak menjadi mahasiswa di University of Edinburgh pada tahun 1972, Hinton telah mempelajari jaringan syaraf yang menjadi dasar dari AI dan deep learning.


Pada tahun 1980, Hinton menjadi seorang profesor di Carnegie Mellon University. Ia bahkan pernah mendapat tawaran dana dari AS dan Pentagon untuk penelitiannya, namun ia lebih memilih mendapatkan pendanaan dari Kanada. Hal ini karena Hinton ingin menghindari penggunaan AI untuk tujuan militer.


Pada tahun 2012, Hinton dan dua mahasiswanya berhasil menciptakan jaringan syaraf yang mampu mengidentifikasi ribuan foto dan belajar pola objek di dalamnya. Salah satu mahasiswanya, Ilya Sutskever, saat ini menjabat sebagai Chief Scientist di OpenAI, perusahaan yang mengembangkan ChatGPT.


Google kemudian membeli perusahaan startup milik Hinton senilai US$ 44 juta. Sejak saat itu, Hinton menghabiskan lebih dari satu dekade untuk menyempurnakan produk AI milik Google hingga akhirnya memutuskan untuk pensiun baru-baru ini.

Post a Comment for "Bapak AI menyebut ChatGPT lebih berbahaya daripada 'Kiamat'"